Pendahuluan
Ketika umat Islam berada dalam
problem ketidakberdayaan dan keterbelakangan yang total, hanya satu yang bisa
dibanggakan yaitu teks suci itu, pilihannya adalah apakah teks harus ditinggalkan
atau bagaimana, jawabannya akan kita ketahui suatu saat nanti.
Al-Qur`an dan Al-Hadist sangat masyhur dengan
nilai-nilai dan konsep untuk memberikan tuntunan hidup manusia, begitu juga
mengenai petunjuk ilmu pengetahuan. Jika manusia mau meggali isi kandungannya
niscaya akan banyak ditemukan beberapa persoalan tentang ilmu, baik ilmu
pengetahuan social maupun ilmu pengetahuan alam. Betapa ilmu itu penting
artinya, sehingga hampir setiap saat manusia tidak pernah lepas dari aktivitas
pencarian ilmu tersebut karena keungggulan suatu umat manusia atau bangsa juga
akan tergantung kepada seberapa banyak mereka menggunakan rasio, anugrah Tuhan
itu untuk belajar dan memahami ayat-ayat Allah SWT. Hingga pada akhirnya Diapun
mengangkat derajat orang yang berilmu ke derajat yang luhur.(QS. Al-Mujadalah :
11)
Dari segi metode ilmu diperoleh dari jalan Indrawi
(pengamatan) dan pembuktian (verifikasi) yang berdasar experimentasi, sementara
agama diperoleh dari keyakinan (iman) atau wahyu yang dibawa rasul. Namun ilmu
secara azazi bertujuan untuk kebahagiakan dan kesejahteraan ummat manusia di
dunia dan akhirat ,maka ilmu diharapkan integral pada diri manusia sebagaimana
tercermin dalam Al-Qur`an.
Oßg÷YÏBur
`¨B ãAqà)tƒ
!$oY/u‘
$oYÏ?#uä
’Îû $u‹÷R‘‰9$# ZpuZ|¡ym ’Îûur
ÍotÅzFy$#
ZpuZ|¡ym
$oYÏ%ur z>#x‹tã
Í‘$¨Z9$#
ÇËÉÊÈ
Artinya
: dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa
neraka"(Al-Baqoroh :201).
Secara epistemologis terhadap
tekstual akan menimbulkan beberapa pertanyaan : apakah kita mampu memahami
kenyataan haqiqi dan realitas ?. Dalam hal ini kita dapat berpresepsi bahwa
bagaimanapun posisi Al-Qur`an tetap merupakan unsur konstitutif yang sangat
berpengaruh di dalam paradigmanya, dan ini bukan berarti bahwa apa yang dibangun
oleh manusia sebagai paradigma atau interpretasi itu merupakan kebenaran
sejati, melainkan ia lebih merupakan ijtihad yang boleh jadi khilaf.
0 komentar:
Posting Komentar